The Battle of `E`

Diantara persaingan perusahaan motor dunia, khususnya di segmen offroad, varian motor listrik sudah mulai samar-samar terdengar. Dengan kemunculan 3 perusahaan yang mulai fokus pada pengembangan motor listrik, konsumen yang tidak terlalu suka dengan kebisingan mulai tertarik untuk mengetahui apa saja kelebihan dan kelemahan dari varian motor listrik yang mampu digunakan untuk ber-offroad ria.

Sebenarnya tidak hanya tiga, Yamaha dan Suzuki pun sudah lama mempunyai concept e-bike yang disebut PED1 (Yamaha), dan Extrigger 125 (Suzuki). Namun entah kenapa, 2 jenis motor ini tidak lebih dikenal dibanding 3 motor yang kita ulas ini:

KTM Freeride E-XC

Kita mulai dari perusahaan yang paling tersohor di dunia offroad, KTM. Dengan kemunculan motor berpenggerak listrik yang dinamai Freeride E-XC, KTM sepertinya mulai serius untuk mengembangkan motor berteknologi listrik untuk satu dasawarsa kedepan.

KTM Freeride E-XC via KTM.com

Dengan berat bersih 110 kg, Freeride E-XC lebih cocok untuk pemakaian yang tidak membutuhkan kerja berat semisal Hard Enduro atau Enduro Rally…  kecuali bagi yang mau coba-coba ya silakan. Pastinya, Freeride E-XC amat lincah dibanding motor trail yang menggunakan pengapian. Body yang langsing dan tidak bersuara, menjadikan jenis trail bike ini semacam ‘stealth fighter’ di dunia garuk tanah.

Di Indonesia sendiri, menurut laman website resminya, KTM Indonesia tidak menampilkan profil varian motor listrik ini. Jadi kalo kamu memang berminat sekali untuk memiliki motor yang ‘sexy’ ini, langsung saja hubungi dealer resminya ya. Siapa tau mereka punya stock nya di gudang.

Zero FX

Baru dengar nama motor ini?. Zero FX merupakan motor trail listrik yang berasal dari pabrikan kecil asal Santa Cruz – California, Amerika. Motor ini bukan motor Jepang atau Eropa, tapi dari penelusuran 24stroke, jangan main-main dengan motor ini di arena Cross Country yang banyak obstacle dan jalur berliku.

Zero FX via zeromotorcycles.com

Dengan hanya bermodalkan rem dan gas tanpa oper gigi, Zero FX mampu mengalahkan saudara saudara tuanya yang beraliran 2-tak dan 4-tak dengan sekali geber sampai tikungan pertama kalau memulai start balapan.

Memang Zero FX ini di Amerika sana banyak dimodif untuk aktivitas motocross. Tentu dengan mencopot lampu, plat nomer, dan kawan kawan. Kalau kamu penasaran, Zero FX sebenarnya sudah agak lama dijual resmi oleh Garansindo, meski belum banyak sekali orang yang menggunakannya. Toh kami saja baru sekali melihat penampakannya di jalan raya Jakarta, dan satu kali di jalur offroad Bogor.

ALTA Redshift

Kemunculan e-trail bike ALTA Redshift di ajang balap supercross linier RED BULL STRAIGHT RHYTHM baru baru ini membuka mata kita semua bahwa  motocross dengan tenaga baterai pun mampu ngejabanin motocross berpengapian bensin.

ALTA Redshift (white) on RedBull Straight Rhythm via altamotors.co

Dengan joki pabrikan Josh Hill yang juga merupakan motocrosser professional, ALTA Redshift bertransformasi menjadi motocross bertenaga baterai yang patut diwaspadai untuk beberapa tahun kedepan. Mengingat saat ini saja bukan hanya ringan dan lincah, di tangan motocrosser yang tepat, motor ini juga mampu menjadi ‘iblis’ tanpa suara. Hiyy..

Kesimpulan, motor trail listrik masih kami anggap motor setengah konsep. Karena kami yakin masih banyak performa yang perlu ditingkatkan sana sini oleh masing masing pabrikan. Semisal sektor endurance – peningkatan durability di sektor inti (baterai), keamanan bilamana motor tercebur sungai – apakah aman/tidak ada kebocoran listrik yang bisa menyebabkan bahaya kepada si rider, dan selain faktor sasis, engine, dan berat, tentunya sektor harga jual sangat diperhatikan oleh konsumen yang saat ini amat mudah membanding-bandingkan satu motor dengan lainnya. Sebagai contoh, konon ALTA Redshift saja bisa ditebus di kisaran harga 200 jutaan. Duhh… pusing pala barbie!

videos courtesy of their respective owners (YouTube)

Kasih Komentar Disini