TRACK’s 10 Days Adventure H3 – H8

Di hari kedua ini peserta melanjutkan penjelajahan menempuh jalur yang tak kalah beragamnya. Rute yang akan dilalui adalah Ulubelu, Ulu Semong, Bandar Agung, Kaki Gunung Sekincau Belirang. Buat motor 4 tak lintasan macam ini tidak terlalu menguras tenaga sepanjang ban depan tidak terantuk hambatan. Namun untuk motor 2 tak semacam TS 125 lintasan macam ini jelas menguras tenaga dan emosi!

Sulitnya mendapatkan traksi ditambah jarak ban ke swing arm yang sempit melelahkan peserta. Motor-motor 4 tak dengan torsi kecil pun tak lantas mudah melibas jalur pulen semacam ini. Jalur empuk seperti ini memang menjadi makanan empuk bagi motor ber cc besar diatas 250 cc. Tapi kalau sudah diguyur hujan, sama saja kondisinya.

Wilayah lintasan yang berada di Muara Dua ini menarik. Pemandangan dinding pegunungan Bukit Barisan mulai tersembul terlihat indah. Kami juga sempat mencicipi menyeberang rakit, melintasi beberapa anak sungai kecil.

Lintasan open track lengket dan licin memaksa peserta mengakhiri perjalanan hari ini di Fajar Bulan, Suoh, Lampung Barat. Lagi-lagi kami belum mencapai BC 01 yang sudah ditentukan.

Memasuki hari ke-3 penjelajahan 10 Hari menuju Bukittinggi perjuangan para petualang jalur tanah semakin mencekam. Setelah dua hari mereka belum dapat mencapai Base Camp 01 karena kondisi jalur yang sangat panjang dan full jalur tanah merah lengket. Demikian pula hari ke-3. Hujan ringan hingga sedang menambah perjuangan peserta semakin berat.

Pergelangan tangan mulai keram menahan getaran stang ditambah harus menahan laju motor supaya tetap mendapat traksi. Hal ini membuat Tim Support Car dan Offisial berdebar-debar menunggu kapan tibanya mereka di Base Camp. Sementara itu 3 peserta tambahan dari DKI Jakarta & Banten yang akan masuk di entry pertama sudah tiba sejak tadi malam.

Perjalanan hari ke-3 yang dimulai dari Blok II A Suoh Lampung Barat masih harus memakan waktu 7-8 jam lebih sampai peserta mendapat jalur on road untuk mempercepat menuju Base Camp 02 di Musi Banyuasin.

Grup pun terbagi menjadi beberapa kelompok kecil. Grup rider pertama berisi 4 orang peserta berhasil tiba di Jalan Lintas Suoh – Sekincau mendekati pukul 12 siang. Sedang grup kedua yang berisi lebih banyak rider justru tertahan oleh hujan di jalur Suoh menuju Sekincau tsb. Lintasan yang dilalui juga bukan sepenuhnya aspal. Sebagian besar masih berupa lintasan offroad. Itu artinya mereka harus berjibaku kembali. Apa daya semua harus dijalani walaupun tenaga dan mental sudah cukup letih. Untungnya pemandangan indah di Pagar Dewa menghibur kami. Senja di Pagar Dewa sambil memandangi alam membuat kami lupa sesaat akan letihnya badan.

Alhamdulillah dalam sisa malam yang sedikit akhirnya kami berhasil masuk ke wilayah baturaja dan bermalam di penginapan setempat.

Hari ke-4. Rasa letih mulai menghinggapi peserta. Dalam sisa waktu yang tak banyak dan belum sampai ke BC 01, RC memutuskan mengambil jalur pintas melalui Jalur OKU (Ogan Komering Ulu). 4 orang peserta bergegas memutuskan gaspol onroad selama +/- 6 jam hingga akhirnya tiba di Sekayu pk 17.00 WIB.

Kloter terakhir memutuskan mengikuti arahan RC mencari jalan pintas (light offroad) melintasi perkebunan sawit di wilayah Talang Akar, OKU selepas daerah Pendopo jelang magrib hingga malam sampai akhirnya tiba di Sekayu pk. 21.00. Cerita tentang seramnya jalan (malam) di OKU menghantui perjalanan. Bahkan rute di GPS pun sempat hilang, menambah perjalanan ini semakin mencekaaamm! Cerita OKU yang mencekam dengan kisah begal-nya bahkan sempat di dapat oleh kloter terakhir.

Namun kenyataan itu sirna ketika kloter terakhir lewat dengan aman. Walaupun sempat was-was. Bahkan ada seorang penduduk yang mau bersusah payah memandu kami. Hebatnya lagi tak mau diberi uang. Di beberapa tempat masyarakat menyambut dengan ramah tanpa bermaksud lain. Mungkin rombongan kami pun seperti rombongan lenong, hiburan bagi mereka di pedalaman.

Kasihan OKU sebagai bagian dari NKRI selalu disudutkan dengan cerita seram. Dampak pembangunan yang timpang. OKU Aman & Ramah. Mereka saudara kita juga.

Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Perjumpaan dengan Support Tim di daerah Sekayu. Gembira, senang, lega bercampur karena kami bisa ganti pakaian, ganti helm motor pun di servis dengan layak.

Di Hari ke-5 ini 3 darah segar bergabung di Tim 10 DAYS ADVENTURE. Punggawa lama offroad motor Aspar Putramedia, Teuku Yusrizal, Gerhandi bergabung. Namun 3 peserta sementara rehat yakni Putra Adhi dan Pakde Tris. Sementara Anang Tosan digantikan oleh Hery Aceng.

Jalur kebun sawit panjang di Grissik, lokasi penambangan minyak tradisional mewarnai perjalanan kami. Debu tak habis2, jalur sepi dan relatif kering agak membosankan. Muka serasa di facial.

Rehat siang kami berhenti di satu desa di Sungai Napal yang namanya mirip kawasan paling terkenal se-ibukota, TANABANG. Kami pun menyempatkan makan siang di warung kecil dan menyempatkan diri membeli kacamata untuk pelindung debu dan sinar matahari. Benar-benar shopping kita di Tanabang.

Insiden terjadi ketika masuk malam. Nanang Sale offroader gaek asal Ciamis, Jawa Barat yang terlalu semangat ketemu jalan aspal mendadak meletus ban depannya. Terpaksa kita berhenti untuk perbaikan. Ditengah perbaikan datang seorang kawan lokal bernama Damar turut menemani kami hingga selesai. Luar biasa kami merasa ditemani.

Namun jarak yang masih panjang membuat Tim Mekanik dan Sapu Bersih alias Sweeper tak bisa sampai ke BC Muara Bulian. Mereka memutuskan tidur di flying BC di di daerah Bayung Lencir. Sementara BC kami berada di daerah Muara Bulian di tepian Sungai Batanghari, Jambi. Terpaut jarak 83 km di belakang. Bukan jarak yang main-main.

Hari ke-6. Grup Sweeper akhirnya merapat ke BC Muara Bulian setelah tertinggal jauh akibat insiden pecah ban motor Kang Nanang. Karena masuk BC sudah mendekati tengah hari mereka diberikan kesempatan beristirahat sebentar. Brief RC pasukan rolling jam 15.00.

Kami bergerak bersama Mobil Support ke arah BC 07 yang berada di daerah Lipat Kain Pekanbaru. Perjalanan malam via jalur onroad. Masuk kawasan Sungai Bengkal, Tebo Ilir jam 17.00 motor Peserta Dendi asal Depok yang memang sedari awal bermasalah kali ini benar2 tidak bisa meneruskan perjalanan. Untungnya masih ada satu motor cadangan milik peserta lain yang bisa dipakai.

Lepas magrib peserta bergegas menuju BC 06 di kawasan Cereniti. Kami membuka tenda di daerah Pasar Senin, Desa Arum Sari Simpang Niam MuaraTebo, Jambi. Nama Pasarnya Senin tapi bukanya khusus hari Minggu saja. Grup motor memutuskan berpisah dengan Mobil Support. Karena mereka memilih bermalam. Sementara Mobil Support tetap melanjutkan perjalanan menuju Kawasan Lipat Kain.

Hari ke-7. Hari ini track log menunjukkan kita masuk ke Kawasan Suku Anak Dalam di wilayah Taman Nasional Bukit 30. Deg-degan sekaligus “exciting” karena akhirnya mungkin bisa melihat secara langsung suku tersebut. Sebelumnya hanya pernah dengar dan tahu dari bacaan atau dokumentasi film. Masuk melalui kawasan perkebunan sawit, sinyal HP sudah sangat sulit didapat.

Kawasan ini adalah areal perluasan kebun kelapa sawit. Sebelum masuk jalur seorang penduduk mengingatkan agar berhati-hati karena Macan, Gajah, Beruang dan Orang Utan sedang bermigrasi keluar menuju pemukiman karena habitat hidup mereka terkena perluasan kebun sawit. “Jangan beri makan” begitu pesan penduduk tadi.

Perjalanan hari ini demikian panjang. Sinyal sulit didapat di wilayah ini karena tertutup pepohonan tinggi besar. Kami baru bisa mengabarkan offisial tentang posisi sekitar jam 7 malam. Itupun sudah di wilayah Taman Nasional Tesso Nilo. Motor Syarif belakangan mengalami trouble mungkin karena dihajar lintasan gravel panjang. Mendekati pk. 8 malam kami pun mendapati satu rumah yang mengizinkan kami menumpang perbaikan motor dan bermalam. Pemilik rumah adalah anak Rimba. Rio namanya. Nikmat rasanya bisa bertemu dengan saudara-saudara di pedalaman yang iklas dan hangat menerima kami.

Hari kedelapan. Peserta entry point kedua sudah mulai berdatangan sejak tadi malam. Mereka adalah Yuda Laman, Suparman Dhemang, Annas Zainur, Win, Kelik, Bengi dan Mamat. Segera mereka merapat ke BC07 di Kawasan Lipat kain bertemu dengan Support Car.

Peserta sebelumnya mulai masuk BC menjelang siang. Aspar dan Syarif mengalami kendala mesin. Motor Aspar benar-benar harus ditandu oleh Support Car karena mesin sudah berasap tebal. Oli yang encer ditenggarai sebagai penyebabnya. Akibatnya tak tahan mengarungi lintasan gravel panjang. Di belakang grup ini masih ada Putra Adhi yang riding sorangan 100 km mengejar grup depan. Sementara beberapa peserta malah baru masuk Base camp di paruh malam.

Grup belakang alias Tim Sapu Bersih sampai dengan pk. 17.00 mengabarkan masih tertahan di Simpang Koran terhambat hujan badai. Panjangnya jalur Sumatera memang bukan main-main. Sekalipun lintasannya berupa tanah gravel namun panjangnya bisa ratusan kilometer. Membuat grup terpisah menjadi beberapa kelompok.

Pukul 21.30 RC memberi aba-aba besok grup berjalan kembali sesuai format 6-7-8. Daerah yang di lintasi adalah daerah dengan lintasan “bejad” dimana jarak lintasan pendek namun rintangan dan konturnya naik turun dengan banyak “V”. Itu artinya peserta akan berhadapan dengan jalur dengan tingkat kesulitan tinggi. Dimana sudut elevasinya bisa sangat extreem. Banyak Turunan curam dan tanjakan menjulang dengan sudut kemiringan tajam. Wow mencekaaaammmm!/** (BR/Track)

images courtesy of X-TRACK

Kasih Komentar Disini